Sejarah.
Dalam Lontar Purana Jagat Bangsul disebutkan nama-nama gunung yang ada di pulau Bali. Diantara gunung-gunung tersebut ada disebutkan nama Bukit Rangda. Setelah itu juga disebutkan Sang Hyang Pasupati yang bersabda, bahwa keberadaan pucak Bukit Rangda diberkati semoga menjadi Kahyangannya Hyang Ludra yang disembah atau disungsung oleh seluruh keturunan orang Bali sampai kelak kemudian hari.
Nama Bukit Rangda diambil dari kata buket dan rangdu. Buket bermakna tenget atau angker atau sakti tanpa tanding, rangdu sama dengan kepuh. Dinamai Bukit Rangda karena disana dulu ada pohon rangdu atau kepuh yang sangat angker atau tenget. Tentang mulainya dinamai Bukit rangda yaitu pada tahun saka 111 atau tahun 189 masehi.
Setelah tahun berganti tahun, kemudian pada tahun saka 1315 atau 1393 masehi disebutkan Dukuh Mayaspuri yg bertempat tinggal di gedong purwa. Beliau mempunyai putra-putri yg bernama I Mucaling, Ratu Ngurah Tangkeb Langit, I Ratu Wayan Teba, I Made Jelawung, I Nyoman Pengadangan, I Ketut Petung dan Ni Luh Rai Darani.
Kemudian suatu hari I Mucaling ketentraman penduduk desa Lalanglinggah dengan melakukan penestian dan peneluhan atau pengeliakan untuk menghancurkan kawasan tersebut. Namun perbuatannya tersebut diketahui oleh Rsi Markandya, kemudian beliau melakukan pemujaan untuk menciptakan air tirta mukjizat yg sangat ampuh. Kemudian percikan air tirta itu menyebabkan I Mucaling Kepanasan dan kebingungan kumudian tidak tahan tinggal di Bukit Rangda. Hal tersebut menyebabkan I Mucaling mengungsi ke Jungut Batu dan kemudian menetap di Dalem Peed Nusa Penida. Tetapi saudara-saudaranya masih berada disana, kemudian mereka memeluk kaki Sang Rsi dan memohon perlindungan dari beliau. Kemudian Rsi Markandya memberiakan titah agar mereka mengantikannya untuk mendirikan Kahyangan Bhatara, sebagai tempat bersthananya Bhatara Hyang Ludra. Kemudian dibangunlah Kahyangan atau pura disana, lalu diupacarai atau diplaspas. Selain itu juga diselenggarakan upacara Pratistha Lingga di Kahyangan tersebut pada tahun saka 1340 atau 1418 masehi dan pura itu dimanai Kahyangan Penataran Pucak Bukit Rangda atau Pura Luhuh Pucak Bukit Rangda.
NAMA DAN LOKASI PURA
Nama lengkap Pura ini adalah PURA LUHUR PUCAK BUKIT RANGDA. Menurut Desa Administrasi, Pura ini terletak di perbatasan Desa Lalanglinggah bagian utara, dengan batas selatan Desa Mundeh, Kecamatan Selemadeg Barat, Kabupaten Tabanan. Ditinjau dari Desa Adat, Pura ini terletak diantara Desa Adat Bangkiang Jaran, Bukit Tumpeng dan Penataran.
Secara fisik geografis Pura Luhur Pucak Bukit Rangda terletak di tempat yang berketinggian 200 meter dari permukaan laut, berada di puncak sebuah bukit yang dikitari oleh jurang-jurang yang cukup terjal. Sesuai dengan namanya, Pura ini memang betul-betul berada di puncak Bukit Rangda.
Menurut Lontar Purana Jagat Bangsul, kata Rangda berarti rangdu hutan atau kepuh, dan bukit berarti buket, dan buket berarti sakti tanpa tandingan. Bukit Rangda berarti tanah tinggi berbentuk bukit yang ditumbuhi rangdu hutan atau pohon kepuh besar yang keramat/ tenget atau mempunyai kekuatan gaib. Dengan demikian Pura Luhur Pucak Bukit Rangda adalah sebuah Pura yang terletak di puncak sebuah bukit yang dulu ditumbuhi pohon kepuh besar yang sampai kini tetap dikeramatkan karena mempunyai kekuatan gaib untuk melindungi keselamatan umatnya.
Pura ini dapat dicapai melalui jalan darat Denpasar-Gilimanuk, sampai di Banjar Suraberata belok ke utara menuju Pancoran, Bangal, Penataran, Bukit Rangda, dengan jarak tempuh lebih kurang 20 Km. Melalui Yeh Bakung, Bangkiang Jaran, Penataran, Bukit Rangda, lebih kurang 8 Km. Dari Pupuan melalui kemoning, Belatungan, Bangal, Penataran, Pucak Rangda lebih kurang 30 Km. Dari Bajera lebih kurang 23 Km, dan sejauh lebih kurang 41 Km dari Ibu Kota Kabupaten Tabanan, atau lebih kurang 62 Km dari Kota Denpasar. Iklim disekitar Pura ini sejuk menyegarkan dengan panorama pantai Yeh Bakung yang sangat indah.
Karya Agung Ngenteg Linggih.
Dudonan karya agung ngenteg linggih,mamungkah,mupuk pedagingan,tawur agung,mapadudusan agung,manawa ratna,wana kertih,@ Pura Kahyangan Jagat Luhur Pucak Bukit Rangda,( lalanglinggah,Selemadeg Barat,Tabanan)
18 Nov 14 : negtegang manik galih,ngingsah lan nyangling,
20 Nov 14 : nyamuh gede,metanding.
7 Des 14 : nuwur tirta,nedunang ida bhatara,mendak siwi,
14 Des 14 : melaspas linggih,melaspas bagia pula kerti,melaspas pedagingan,banten,
15 Des 14 : memenjor,wastra.
18 Des 14 : Ida bhatara desa pakraman pengempon kairing ke pura,
21 Des 14 : melasti pasih mekayu,mulng pekelem,
23 Des 14 : mepepada tawur.
24 Des 14 : tawur agung,panca kelud,mupuk pedagingan.
25 Des 14 : nyepi,oleman guru wisesa
26 Des 14 : mepepada karya,
27 Des 14 : puncak karya ngenteg linggih,
28 Des 14 : mapedanaan
30 Des 14 : ngeremekin,mepeed,
3 Jan 15 : ngelawa
4 Jan 14 : nyegara gunung
7 Jan 14 : nyineb karya,nuek bagia pula kerti,rsi bojana,
7 Feb 15 : abulan pitung dina.
Sane arsa medana punia durusang....!!!
Om Santih, Santih, Santih, Om
23 November 2014
Pura Luhur Pucak Bukit Rangda
Sejarah.
Dalam Lontar Purana Jagat Bangsul disebutkan nama-nama gunung yang ada di pulau Bali. Diantara gunung-gunung tersebut ada disebutkan nama Bukit Rangda. Setelah itu juga disebutkan Sang Hyang Pasupati yang bersabda, bahwa keberadaan pucak Bukit Rangda diberkati semoga menjadi Kahyangannya Hyang Ludra yang disembah atau disungsung oleh seluruh keturunan orang Bali sampai kelak kemudian hari.
Nama Bukit Rangda diambil dari kata buket dan rangdu. Buket bermakna tenget atau angker atau sakti tanpa tanding, rangdu sama dengan kepuh. Dinamai Bukit Rangda karena disana dulu ada pohon rangdu atau kepuh yang sangat angker atau tenget. Tentang mulainya dinamai Bukit rangda yaitu pada tahun saka 111 atau tahun 189 masehi.
Setelah tahun berganti tahun, kemudian pada tahun saka 1315 atau 1393 masehi disebutkan Dukuh Mayaspuri yg bertempat tinggal di gedong purwa. Beliau mempunyai putra-putri yg bernama I Mucaling, Ratu Ngurah Tangkeb Langit, I Ratu Wayan Teba, I Made Jelawung, I Nyoman Pengadangan, I Ketut Petung dan Ni Luh Rai Darani.
Kemudian suatu hari I Mucaling ketentraman penduduk desa Lalanglinggah dengan melakukan penestian dan peneluhan atau pengeliakan untuk menghancurkan kawasan tersebut. Namun perbuatannya tersebut diketahui oleh Rsi Markandya, kemudian beliau melakukan pemujaan untuk menciptakan air tirta mukjizat yg sangat ampuh. Kemudian percikan air tirta itu menyebabkan I Mucaling Kepanasan dan kebingungan kumudian tidak tahan tinggal di Bukit Rangda. Hal tersebut menyebabkan I Mucaling mengungsi ke Jungut Batu dan kemudian menetap di Dalem Peed Nusa Penida. Tetapi saudara-saudaranya masih berada disana, kemudian mereka memeluk kaki Sang Rsi dan memohon perlindungan dari beliau. Kemudian Rsi Markandya memberiakan titah agar mereka mengantikannya untuk mendirikan Kahyangan Bhatara, sebagai tempat bersthananya Bhatara Hyang Ludra. Kemudian dibangunlah Kahyangan atau pura disana, lalu diupacarai atau diplaspas. Selain itu juga diselenggarakan upacara Pratistha Lingga di Kahyangan tersebut pada tahun saka 1340 atau 1418 masehi dan pura itu dimanai Kahyangan Penataran Pucak Bukit Rangda atau Pura Luhuh Pucak Bukit Rangda.
NAMA DAN LOKASI PURA
Nama lengkap Pura ini adalah PURA LUHUR PUCAK BUKIT RANGDA. Menurut Desa Administrasi, Pura ini terletak di perbatasan Desa Lalanglinggah bagian utara, dengan batas selatan Desa Mundeh, Kecamatan Selemadeg Barat, Kabupaten Tabanan. Ditinjau dari Desa Adat, Pura ini terletak diantara Desa Adat Bangkiang Jaran, Bukit Tumpeng dan Penataran.
Secara fisik geografis Pura Luhur Pucak Bukit Rangda terletak di tempat yang berketinggian 200 meter dari permukaan laut, berada di puncak sebuah bukit yang dikitari oleh jurang-jurang yang cukup terjal. Sesuai dengan namanya, Pura ini memang betul-betul berada di puncak Bukit Rangda.
Menurut Lontar Purana Jagat Bangsul, kata Rangda berarti rangdu hutan atau kepuh, dan bukit berarti buket, dan buket berarti sakti tanpa tandingan. Bukit Rangda berarti tanah tinggi berbentuk bukit yang ditumbuhi rangdu hutan atau pohon kepuh besar yang keramat/ tenget atau mempunyai kekuatan gaib. Dengan demikian Pura Luhur Pucak Bukit Rangda adalah sebuah Pura yang terletak di puncak sebuah bukit yang dulu ditumbuhi pohon kepuh besar yang sampai kini tetap dikeramatkan karena mempunyai kekuatan gaib untuk melindungi keselamatan umatnya.
Pura ini dapat dicapai melalui jalan darat Denpasar-Gilimanuk, sampai di Banjar Suraberata belok ke utara menuju Pancoran, Bangal, Penataran, Bukit Rangda, dengan jarak tempuh lebih kurang 20 Km. Melalui Yeh Bakung, Bangkiang Jaran, Penataran, Bukit Rangda, lebih kurang 8 Km. Dari Pupuan melalui kemoning, Belatungan, Bangal, Penataran, Pucak Rangda lebih kurang 30 Km. Dari Bajera lebih kurang 23 Km, dan sejauh lebih kurang 41 Km dari Ibu Kota Kabupaten Tabanan, atau lebih kurang 62 Km dari Kota Denpasar. Iklim disekitar Pura ini sejuk menyegarkan dengan panorama pantai Yeh Bakung yang sangat indah.
Karya Agung Ngenteg Linggih.
Dudonan karya agung ngenteg linggih,mamungkah,mupuk pedagingan,tawur agung,mapadudusan agung,manawa ratna,wana kertih,@ Pura Kahyangan Jagat Luhur Pucak Bukit Rangda,( lalanglinggah,Selemadeg Barat,Tabanan)
18 Nov 14 : negtegang manik galih,ngingsah lan nyangling,
20 Nov 14 : nyamuh gede,metanding.
7 Des 14 : nuwur tirta,nedunang ida bhatara,mendak siwi,
14 Des 14 : melaspas linggih,melaspas bagia pula kerti,melaspas pedagingan,banten,
15 Des 14 : memenjor,wastra.
18 Des 14 : Ida bhatara desa pakraman pengempon kairing ke pura,
21 Des 14 : melasti pasih mekayu,mulng pekelem,
23 Des 14 : mepepada tawur.
24 Des 14 : tawur agung,panca kelud,mupuk pedagingan.
25 Des 14 : nyepi,oleman guru wisesa
26 Des 14 : mepepada karya,
27 Des 14 : puncak karya ngenteg linggih,
28 Des 14 : mapedanaan
30 Des 14 : ngeremekin,mepeed,
3 Jan 15 : ngelawa
4 Jan 14 : nyegara gunung
7 Jan 14 : nyineb karya,nuek bagia pula kerti,rsi bojana,
7 Feb 15 : abulan pitung dina.
Sane arsa medana punia durusang....!!!
Om Santih, Santih, Santih, Om
15 October 2010
27 June 2010
Pura Melanting
Pulaki dan beberapa pura dalam kawasannya merupakan paduan
yang lengkap bagi sebuah perjalanan spiritual tirta-yatra.
Terletak di arah mentari terbenam di cakrawala,
ujung barat pulau Dewata. Dalam pangkuan alam yang
hijau asri dalam masa penghujan, dan kering menyengat di musim
kemarau. Namun demikian, tidaklah sedemikian terasa bedanya dalam
naungan kesejukan yang kita rasakan dalam pelukan wibawa beliau dari
waktu ke waktu. Bersimpuhlah mengangkat sembah memuja beliau dan
memohon ampunan. Sesekali apabila beliau berkenan,
di sini kita akan memperoleh petunjuk nyata. Berupa cermin hidup,
tentang kegalauan ambisi, nafsu, emosi, dan hiruk-pikuknya hidup kita.
Perhatikan tingkah yang diperagakan oleh setiap ekor kera yang kita
temui. Tepat seperti itulah ulah kita dalam pandangan beliau yang
maha pengasih. Semakin banyak tingkah kera-kera itu yang menyesakkan
dada kita, berarti semakin banyak pula yang harus kita sadari,
dan kita benahi dalam hidup kita ini. Betapa geramnya murka
beliau melihat ulah kita, seandainya beliau tidak lagi maha pengampun.
Bersimpuhlah berserah diri ke hadapan Ida Sang Hyang Widi.
31 May 2010
Pura Luhur Pucak Rangda
Pura Ini Terletak di Puncak Bukit Selemadeg barat,tabanan
08 February 2010
Pura Melanting Pulaki
Kabupaten/Kota : Buleleng
Lingkungan Pura Pulaki dibangun di atas tebing berbatu dan langsung menghadap ke laut. Lingkungan Pura ini kelihatan sangat agung dan sesuai dengan namanya yaitu Lingkungan Pura Agung Pulaki. Daya tarik Lingkungan Pura ini yang menonjol adalah lokasi dan lingkungan Pura. Bukit terjal yang berbatu dan kering serta laut membentang di depannya dan bukit tidak jauh di sebelah Baratnya yang berbentuk tanjung kecil memberikan suasana yang sangat menarik.Kera-kera yang hidup di sekitar pura ini, sering berkumpul di halaman pura karena adanya makanan yang diberikan oleh para pengunjung, menambah daya tarik lingkungan pura ini.Lingkungan Pura Pulaki terletak di desa Banyupoh Kecamatan Gerokgak, 53 km sebelah Barat Singaraja. Lingkungan Pura Pulaki itu sesungguhnya merupakan satu kompleks yang terdiri dari lingkungan Pura Agung Pulaki dengan beberapa "Pesanakannya" yaitu lingkungan Pura Melanting, lingkungan Pura Kertha Kawat, lingkungan Pura Pabean dan lingkungan Pura Pemuteran. Lingkungan Pura Melanting ada kaitannya dengan kemakmuran, khususnya yang beraspek perdagangan, sehingga lingkungan Pura Melanting banyak dikunjungi oleh para pengusaha, pedagang, untuk bersembahyang dan membawa "aturan'. Di Lingkungan Pura Pemuteran, terdapat air panas yang banyak dikunjungi baik oleh penduduk lokal maupun wisatawan.
Alas Kedaton
Kabupaten/Kota : Tabanan
Alas Kedaton terletak di desa Kukuh Kecamatan Marga + 4 km dari kota Tabanan. Pura ini mempunyai dua keunikan yang sangat menarik. Pertama memiliki empat pintu masuk ke dalam Pura yaitu dari barat yang merupakan pintu masuk utama yang lainnya dari Utara, Timur dan dari Selatan yang kesemuanya menuju ke halaman tengah. Keunikan yang kedua adalah halaman dalam yang merupakan tempat yang tersuci justru letaknya lebih rendah dari halaman tengah dan luar. Tempat suci ini dikelilingi oleh hutan yang dihuni oleh sekelompok kera yang dianggap keramat. Disamping itu pula terdapat sekelompok kalong yang hidup bergantungan di dahan-dahan pohon kayu yang besar dan sewaktu-waktu beterbangan, merupakan suatu atraksi yang sangat menarik bagi wisatawan baik bagi wisatawan Nusantara maupun mancanegara.
Upacara piodalan di Pura ini adalah jatuh pada hari Selasa (Anggara Kasih) dau puluh hari setelah Hari Raya Galungan. Yang mana upacara dimaksud dimulai pada siang hari dan harus sudah selesai sebelum matahari terbenam. Pura ini sering pula disebut Pura Alas Kedaton atau Pura Dalem Kahyangan.
04 November 2009
Pura Uluwatu

Pura Uluwatu atau Pura Luhur Uluwatu terletak di ujung barat daya pulau Bali.Pura ini didirikan diatas batu karang terjal,tinggi dan menjorok ke laut.Pura Uluwatu dipercaya oleh umat Hindu sebagai penyangga dari 9 mata angin atau disebut dengan Pura Sad Kahyangan.Pura ini juga dikenal dengan keindahan sunset-nya.Pura Uluwatu didirikan pertama kali oleh Empu Kuturan pada abad ke-11sebagai tempat untuk menurunkan ajaran Desa adat dengan segala aturan-aturannya dan selanjutnya pura ini dipakai untuk memuja oleh seorang pendeta suci bernama Dang Hyang Nirartha yang mengakhiri perjalanan sucinya di tempat ini dengan apa yang dinamakan Ngeluhur atau Moksa.Di Pura ini dipertunjukan tari Kecak pada sore hari dengan latar belakang sunset yang indah.
24 August 2009
Puncak Gunung Batu Karu




Gunung Batu karu merupakan salah satu gunung yang ada di pulau Bali.
Gunung Batu Karu tepatnya berada di kabupaten Tabanan.
gunung ini mempunyai ketinggian 2200 m diatas permukaan laut.
Untuk mencapai puncak gunung kita bisa melewati jalur barat.
Yaitu melalui Desa Pujungan,Tabanan.
Didalam perjalan kita akan disuguhkan panorama alam yang sangat luar biasa.
Hutan yang masih hijau,udara yang amat segar dan sejuk,
Sangat jauh dari polusi dan bisingnya kota.
Waktu yang diperlukan untuk menempuh puncak gunung
kurang lebih 4-5 jam.
Suasana di puncak gunung lumayan dingin apalagi pada malam hari akan terasa
lebih dingin.Tapi semua itu akan terbayar dengan panorama alam yang sangat
indah dan luar biasa.
Tapi jika berada di atas gunung kita sangat tidak dibolehkan untuk berkata
yang tidak baik,apalagi bertingkah liar.Karena dipuncak gunung Batu Karu
terdapat tempat suci yang sangat keramat.Pura Luhur Puncak Kedaton.
Bagi umat hindu di pura tersebut sangat baik untuk sembahyang dan juga
untuk bermeditasi.
Tirta Yatra Ke Pura Alas Purwa






Tirta Yatra ke Alas Purwa.
Pura Alas Purwa mungkin dikalangan umat Hindu sudah banyak yang tahu.
Pura ini merupakan salah satu pura umat Hindu yang ada di Jawa Timur.
Piodalan di pura tersebut jatuh pada hari raya Pagerwesi atau hari Rabu
Kliwon Uku Shinta.
Pura Alas Purwa ini terdapat di tengah-tengah hutan Blambangan bagian selatan.
Pada Piodalan beberapa waktu yang lalu,kami rombongan dari Pura Pesimpangan
Alas Purwa yang ada di Bali yaitu tepatnya berada di Desa Pangyangan,Negara
yang bernama Pura Kawitan Telaga Tunjung Sari,tangkil ke Alas Purwa dengan
mengiringi Dewa Ayu dan Jero Gede yang akan di solahkan di depan Situs Kawitan
Alas Purwa.Banyaknya rombongan kurang lebih berjumlah 100 orang,dan juga
Rombongan ngaturang ayah dengan mementaskan arja dari paguyuban Wisnu Swara.
Setelah arja baru Dewa Ayu dan juga Jero Gede mesolah tepat pada tengah malam,
(info E.mail : gusseka82@yahoo.com)
Gambar lain : Klik here
23 June 2009
Pura Luhur Sri Jong



Pura Luhur Sri Jong yaitu salah satu Pura yang memiliki keUnikan
dan sangat disakralkan.Pura Luhur Sri Jong terletak persis di bibir
garis pantai laut selatan Bali.Yaitu tepatnya di desa Soko.Selemadeg Barat.
Jalan jalur Denpasar-Gilimanuk.
Pujawali di Pura ini jatuh pada setiap 6 bulan sekali.Tepatnya
Budha Manis Prangbakat.Didalam Pujawali ini Ida Bhatara nyejer sampai
3 hari,yaitu nyinebnya pada hari Minggu.
Di kawasan Pura Luhur Sri Jong ini terdapat pula beberapa pura lainnya.
Yaitu Pura Beji.Pura Beji ini terletak di bawah Pura Luhur.
Di bawah tebing Batu karang yang juga di samping kirinya terdapat
pula goa yang di huni oleh jutaan kelelawar.
Ada juga Pura Mas Melanting,Pura Kebo Iwo.Adanya Pura Kebo Iwo ini
karena Kebo Iwo sangat erat hubungannya dengan Pura Sri Jong Ini.
Dan Pura Luhur Sri Jong sendiri.
English :
Sri Jong tample that is one of the Tample owning unique
and occolt.This Temple located Sri Jong right accross lip
coastline go out to sea south of Bali.that is precisely in
countryside of Soko.Selemadeg West.
Road Street Band of Denpasar-Gilimanuk.
Pujawali in this Tample fall in each its 6 months
Sweet Budha Manis Prangbakat.In the Pujawali of Ida Bhatara
nyejer until
3 of day,that is its his on Sunday.
Tample Gate area of this Sri Jong there are also some other gate.
That Is Tample of Beji.Tample this Beji located in under August Gate.
Below/Under Reef bank which also left beside him there are
also cave which in dwelling by millions of bat.
There is also Gate of Mas Its Melanting,Tample Kebo Iwo Gate
of Kebo Iwo
because Kebo Iwo very hand in glove its relation/link
with Gate of Sri This Junk.
And August Gate of Sri Jong alone.
Contac info : gusseka82@yahoo.com
sms : +62813 3854 1173
Pura Luhur Danu Batur
Batur
Gunung Batur merupakan gunung yang terletak di Kabupaten Bangli.
Pesona dan alam danau,gunung Batur merupakan pesona yang teramat indah
yang merupakan karunia dari Tuhan Yang Maha Esa.
Di Batur terdapat pula Pura yang besar yaitu Pura Luhur Danu Batur.
( Panorama Bali : e.mail: gusseka82@yahoo.com.call : 081 338 541173 )
Pura Besakih
Pura Agung Besakih
Pura Besakih merupakan pura yang terbesar di Bali.
Pura tersebut terletak persis disebelah selatan kaki gunung Agung yang
berada di kabupaten Karangasem.Jarak tempuh untuk mencapai Pura
Besakih ini kurang lebih 2 jam dari Denpasar.
Pura Besakih merupakan pusatnya Pura di Bali.
Dalam beberapa bulan lalu di Pura ini dilaksanakan upacara Panca Bali Krama.
Yang dilakukan setiap 5 tahun sekali.
Hampir dari semua pelosok Bali para umat Hindu tangkil dan ngaturang ayah ke Pura Besakih.
Bahkan banyak juga Penangkilan dari luar Pulau Bali.
Panorama alam Besakih juga sangat indah,sangat mempesona.
( Panorama Bali : e.mail: gusseka82@yahoo.com.call : 081 338 541173 )
09 June 2009
Pura Pulaki


Pura Pulaki yang terletak di sebelah barat Pulau Bali.
Seperti semua pura yang ada di Bali,Pura Pulaki juga memiliki keunikan yang
luar biasa.Diareal pura terdapat banyak monyet yang dilestarikan,terkadang
monyet tersebut sangat nakal,Tapi jangan takut ada penjaga khusus untuk
menjaga para monyet agar tidak mengganggu para penangkilan.
Pura pulaki yang terletak ti pingir pantai Pulaki,yang dibelakangnya
dihiasi dengan tebing-tebing batu karang yang sangat terjal.
25 May 2009
Pulaki

Sulit ditampik, lingkungan Pura Pulaki adalah sebuah kawasan suci yang bisa disebut sangat sempurna. Selain memiliki pemandangan alam menakjubkan, aura religius dan kesucian yang berpendar di kawasan pura dan sekitarnya akan terasa jelas, seakan masuk di sela pori-pori kulit. Sebagian umat yang sempat sembahyang ke pura itu bahkan kerap mengaku bulu tipis di lehernya sesekali akan tegak. Mungkin karena takjub yang berlebihan pada keindahan alamnya atau amat terkesan pada aura religius yang dirasakannya.
PURA Pulaki berdiri di atas tebing berbatu yang langsung menghadap ke laut. Di latar belakangnya terbentang bukit terjal yang berbatu yang hanya sekali-sekali saja tampak hijau saat musim hujan. Pura ini tampak berwibawa, teguh dan agung, justru karena berdiri di tempat yang teramat sulit. Apalagi pemandangan yang ditampilkan begitu menawan. Jika berdiri di dalam pura lalu memandang ke depan, bukan hanya laut yang bakal tampak namun juga segugus bukit kecil di sebelah baratnya yang berbentuk tanjung. Kera-kera yang hidup di sekitar pura ini, meski terkesan galak, juga menciptakan daya tarik tersendiri.
Pura Pulaki terletak di Desa Banyupoh Kecamatan Gerokgak, Buleleng, sekitar 53 kilometer di sebelah barat kota Singaraja. Pura ini terletak di pinggir jalan raya jurusan Singaraja-Gilimanuk, sehingga umat Hindu akan selalu singgah untuk bersembahyang jika kebetulan lewat dari Gilimanuk ke Singaraja atau sebaliknya. Namun jika ingin bersembahyang secara beramai-ramai, umat bisa datang saat digelar rangkaian piodalan yang dimulai pada Purnama Sasih Kapat. Sejarah Pura Pulaki memang tak bisa dijelaskan secara tepat. Namun, dari berbagai potongan data yang tertinggal, sejarah pura itu setidaknya bisa dirunut dari zaman prasejarah.
Ketua Kelompok Pengkajian Budaya Bali Utara Drs. I Gusti Ketut Simba mengatakan, jika mengacu pada sistem kepercayaan yang umum berlaku di Nusantara — sejak zaman prasejarah gunung senantiasa dianggap tempat suci dan dijadikan stana para dewa dan tempat suci para roh nenek moyang — maka diperkirakan Pura Pulaki sudah berdiri sejak zaman prasejarah. Hal ini merunut pada konsep pemujaan Dewa Gunung, yang merupakan satu ciri masyarakat prasejarah. Sebagai sarana tempat pemujaan biasanya dibuat tempat pemujaan berundak-undak. Semakin tinggi undakannya, maka nilai kesuciannya semakin tinggi. “Seperti Pura-pura di deretan pegunungan dari barat ke timur di Pulau Bali ini,” kata Simba.
Di kawasan Pura Pulaki, di sekitar Pura Melanting, sekitar 1987 ditemukan beberapa alat perkakas yang dibuat dari batu, antara lain berbentuk batu picisan, berbentuk kapak dan alat-alat lain. Berdasar hal itu, dan dilihat dari tata letak dan struktur pura, maka dapat diduga latar belakang pendirian Pura Pulaki awalnya berkaitan dengan sarana pemujaan masyarakat prasejarah yang berbentuk bangunan berundak.
Di sisi lain, dilihat dari letak Pura Pulaki yang terletak di Teluk Pulaki dan memiliki banyak sumber mata air tawar, maka kawasan ini diduga sudah didatangi manusia sejak berabad-abad lalu. Kawasan Pulaki menjadi cukup ramai dikunjungi oleh perahu dagang yang memerlukan air sebagai bahan yang sangat diperlukan dalam pelayaran menuju ke Jawa maupun ke Maluku. Bahkan, kemungkinannya pada waktu itu sudah ada berlaku perdagangan dalam bentuk barter. Barang yang kemungkinan dihasilkan dari kawasan Pulaki adalah gula dari nira lontar. Ini didasarkan hingga kini masih ditemukan tanaman lontar di sepanjang pantai dari Gilimanuk ke timur, termasuk Pulaki.
Dari uraian itu, kata Simba, dapat diduga Pulaki sudah ada sejak zaman prasejarah, baik berhubungan dengan tempat suci, maupun sebagai tempat aktivitas lainnya. Hal ini berlanjut hingga peristiwa penyerangan Bali oleh Majapahit tahun 1343 Masehi. Dalam buku ekspedisi Gajah Mada ke Bali yang disusun Ketut Ginarsa tertulis bahwa pasukan Gajah Mada turun di Jembrana lalu berbaris menuju desa-desa pedalaman, seperti Pegametan, Pulaki dan Wangaya.
Menurut Simba, Pulaki juga pernah dijadikan pusat pengembangan agama Hindu sekte Waisnawa sekitar 1380 Masehi seperti tertera dalam buku ”Bhuwana Tatwa Maharesi Markandeya” susunan Ketut Ginarsa. Data lain yang menyebut tentang Pulaki terdapat juga dalam buku ”Dwijendra Tatwa” karangan Gusti Bagus Sugriwa. Di situ ada tertulis, “Baiklah adikku, diam di sini saja, bersama-sama dengan putri kita Ni Swabawa. Ia sudah suci menjadi Batara Dalem Melanting dan adinda boleh menjadi Batara Dalem Ketut yang akan dijunjung dan disembah orang-orang di sini yang akan kanda pralinakan agar tak kelihatan oleh manusia biasa. Semua menjadi orang halus. Daerah desa ini kemudian bernama Pulaki.”
Data lain tentang Pulaki adalah ditemukannya potongan candi yang bentuknya seperti candi yang ada di Kerajaan Kediri. Ditemukan di Pura Belatungan tahun 1987. Dari data itu, maka kesimpulannya keberadaan Pura Pulaki sebagai suatu tempat suci sudah ada sejak zaman prasejarah dan menghilang setelah kehadiran Dang Hyang Nirarta dengan peristiwa dipralinakannya Pura Pulaki sekitar 1489 Masehi. Keberadaan Pura Pulaki tanpa penghuni secara sekala berlangsung cukup lama. Pura Pulaki menghilang dari penglihatan sekala dan daerah ini praktis kosong sejak 1489 sampai sekitar tahun 1920 atau selama sekitar 431 tahun. Namun sebelum itu, dari kurun waktu zaman prasejarah sampai dengan kehadiran Ida Batara Dang Hyang Nirarta tahun 1489, Pura Pulaki masih tetap sebagai tempat pemujaan, baik yang dilaksanakan orang prasejarah, orang Baliaga dengan Sekte Waisnawa yang dikembangkan Rsi Markandeya dan orang pengikut Tri Sakti dengan simbol tiga kuntum bunga teratai yang berwarna merah, hitam dan putih yang dipetik Dang Hyang Nirarta dari kolam yang diperoleh dalam perut naga di Pulaki.
Tirta Empul

Ada sebuah tradisi di Bali yang sampai saat ini masih bertahan dan kerap dilakukan oleh hampir sebagian besar umat Hindu di daerah pariwisata ini. Melakukan pembersihan diri dengan ritual tertentu yang kalau di Bali lebih dikenal dengan istilah melukat.
Sarana utama ritual melukat ini adalah air. Nah, air inipun bukan sembarang air. Melukat bisa dilakukan di air sungai, danau, laut, sumber air alami/kelebutan,bulakan, dan lain-lainnya. Tujuan utama ritual ini adalah menghilangkan leteh atau kotoran lahir maupun bathin. Dalam tradisi masyarakat Kejawen dikenal dengan istilah ruwatan air.
Kenapa Pakai Air?
Seperti kita ketahui bersama, air memegang peranan penting dalam kehidupan manusia. Sampai kapanpun, air akan menjadi sumber hidup dan kehidupan umat manusia di muka bumi ini. Dalam hal ritual melukat, keberadaan air adalah sebuah KEHARUSAN! Melukat tanpa air sama aja bohong. Namun lain cerita kalau melukat itu dilakukan dengan kekuatan bathin. Dalam arti melakukan pengelukatan/pembersihan dengan kekuatan niskala, dengan catatan, diperlukan tingkat jnana yang tinggi.
Tempat Melukat di Bali
1. Pura Tirtha Empul
Pulau Dewata Bali, dikenal sebagai gudangnya tempat ritual melukat, sebut saja yang paling terkenal, adalah Pura Tirtha Empul Tampaksiring, Gianyar.Di pura yang bersebelahan dengan Istana Presiden ini, terdapat beberapa pancuran yang mana setiap pancuran memiliki fungsi masing-masing. Contoh misalnya, pancuran Pengeleburan Ipian Ala, berfungsi sebagai pancuran untuk melebur efek mimpi buruk, dan lain sebagainya. Pura Tirtha Empul letaknya di Desa Manukaya, Kecamatan Tampaksiring Gianyar Bali.Kalau dari Denpasar sekitar 40km.Dan belakangan ini, pura yang memiliki legenda Mayadenawa ini, didatangi bukan hanya oleh umat Hindu, juga oleh umat lain yang ingin melakukan ritual pembersihan/melukat. Pengelukatan sangat baik dilakukan pada hari Purnama(bulan purnama) atau Tilem (Bulan mati), dsamping juga hari-hari suci Hindu-Bali seperti Kajeng Kliwon, Tumpek dan lainnya. Kenapa hari-hari tertentu?Karena diyakini pada hari-hari tersebut sebagai hari suci, sakral dan kekuatan alam semesta terakumulasi dan bisa diserap oleh manusia. Sarana apa saja yang perlu disiapkan? Bagi yang pertama kali pedek tangkil kesana, diwajibkan untuk membawa Daksina Pejati/Peras Daksina jangkep, sebagai bahan permakluman kepada kekuatan niskala yang bersemayam disana. Sedangkan bagi yang sudah sering diperbolehkan untuk membawa canang sari, atau sodaan.Sebelum ritual melukat pastikan bahwa diri anda tidak dalam keadaan "sebel" social ataupun personal bagi yang yang wanita. Dan pada saat ritual mulai para peziarah melukat ini wajib hukumnya mengenakan pakaian/kain begitu masuk ke dalam kolam pancuran. Niat yang tulus, hati yang ikhlas, segarnya air pancuran tirtha Empul, menjadi jaminan bagi anda akan "terlahir kembali"dengan jiwa dan semangat baru. So, kalau anda tertarik melukat di Pura ini, silakan datang langsung.
14 April 2009
Luhur Danu Batur Tample

Charm and natural lakes, mountain Batur is a very beautiful charm
which is the gift of God.
In Pura Batur there are also large, namely Luhur Pura Danu Batur.
( Indonesia )
Gunung Batur merupakan gunung yang terletak di Kabupaten Bangli.
Pesona dan alam danau,gunung Batur merupakan pesona yang teramat indah
yang merupakan karunia dari Tuhan Yang Maha Esa.
Di Batur terdapat pula Pura yang besar yaitu Pura Luhur Danu Batur.
( Panorama Bali : e.mail: gusseka82@yahoo.com.call : 081 338 541173 )
Pura Besakih


Besakih tample is the biggest temple in Bali.
Temple is located exactly on the southern foot of Mount Agung that
located in the district to achieve Karangasem.Jarak of the Pura
Besakih is approximately 2 hours from Denpasar.
Pura Besakih Temple is a center in Bali.
In a few months ago in a ceremony held this Pura Panca Krama Bali.
Conducted every 5 years.
Almost all of the corners of the Bali Hindu Tangkil ngaturang and father to the Pura Besakih.
Even Penangkilan also many from outside the island of Bali.
Besakih panorama of nature is also very beautiful, very glamor.
(Indonesia )
Pura Besakih merupakan pura yang terbesar di Bali.
Pura tersebut terletak persis disebelah selatan kaki gunung Agung yang
berada di kabupaten Karangasem.Jarak tempuh untuk mencapai Pura
Besakih ini kurang lebih 2 jam dari Denpasar.
Pura Besakih merupakan pusatnya Pura di Bali.
Dalam beberapa bulan lalu di Pura ini dilaksanakan upacara Panca Bali Krama.
Yang dilakukan setiap 5 tahun sekali.
Hampir dari semua pelosok Bali para umat Hindu tangkil dan ngaturang ayah ke Pura Besakih.
Bahkan banyak juga Penangkilan dari luar Pulau Bali.
Panorama alam Besakih juga sangat indah,sangat mempesona.
( Panorama Bali : e.mail: gusseka82@yahoo.com.call : 081 338 541173 )
02 March 2009
Sejarah Pura Ulun Danu Beratan
21 February 2009
Tanah Lot Temple

Bali hadir dengan sejuta pesona, salah satu pesona itu hadir di Tanah Lot yang terletak di Desa Beraban Kecamatan Kediri Kabupaten Tabanan, sekitar 13 km barat Tabanan. Disinilah para wisatawan biasanya menyaksikan matahari terbenam (sunset) yang begitu indah. Obyek wisata Tanah Lot memiliki dua pura, yang satu terletak di atas bongkahan batu dan yang satunya terletak di atas tebing mirip dengan Pura Uluwatu. Pura Tanah Lot ini merupakan bagian dari pura Sad Kahyangan, yaitu pura-pura yang merupakan sendi-sendi pulau Bali. Pura Tanah Lot merupakan pura laut tempat pemujaan dewa-dewa penjaga laut.Keunikan pura ini antara lain adalah lokasinya yang berada diatas bukit batu besar pinggir laut. Pada saat air surut dan tingginya tidak lebih dari selutut, kita bisa menyebrang menuju tempat itu.Di sebelah utara pura, tepatnya di dalam gua bawah tebing, terdapat ular suci (holy snake) yang dikeramatkan. Di sana biasanya ada bapak-bapak yang duduk sambil membawa lampu senter di dalam goa. Ular tersebut berwarna hitam kuning, pipih dan beracun, dipercaya sebagai selendang Dang Hyang Nirartha yang terlepas saat sedang bertapa dan hingga kini menjadi penjaga pura. Biasanya disana muncul 2, 3 atau 5 ekor ular. Di tempat ini pula terdapat sumber air tawar bernama Tirta Pabersihan (biasa digunakan sebagai sarana memohon kesucian).
Para wisatawan dapat memegang ular tersebut sambil memanjatkan doa dalam hati. Berkaitan dengan hal tersebut, ada satu mitos di sana, yaitu apabila ada orang yang sedang berpacaran dan membawa pacarnya berkunjung ke Tanah Lot dan melihat ular tersebut, maka akan menyebabkan putusnya hubungan tersebut. Hmmm... tentu ini semua kembali pada kepercayaan kita masing-masing. (sumber :)
english :
Balinese charm comes with a million, one of the charm that comes in Tanah Lot, located in the Village District Beraban Kediri Tabanan, about 13 km west of Tabanan. Disinilah the tourists usually see the sunset (sunset) is so beautiful. Tourism Tanah Lot temple has two, one located at the top of the stone and the bongkahan only located on the cliffs similar to Pura Uluwatu. Pura Tanah Lot is a part of the temple Sad Kahyangan, the quasi-joint which is a joint-island Bali. Pura Tanah Lot sea temple is a place of worship gods guard laut.Keunikan, among others, this temple is its location which is located above the hill boulder seafront. At the time of high water and not more than selutut, we can menyebrang to the north itu.Di believe, precisely in the cave under the cliffs, there is a serpent sacred (holy snake) that dikeramatkan. There are no fathers, who sat down while carrying the flashlight in the cave. Snake is colored yellow, black, flat-toxic and, as a trusted stole Dang Hyang Nirartha irrespective of time and to be imprisoned are now the temple guards. There usually appear 2, 3 or 5 tails snake. In this place there is also a source of fresh water called Tirta Pabersihan (usually used as a means of seeking purity).
The tourists can hold the snake while the offer prayer in the heart. In connection with this, there is one myth there, that is when there is a person who is engaged and brought girlfriend went to see Tanah Lot and the serpent, it will cause a rupture in relations. Hmmm ... all of this back to the trust each of us.
23 December 2008
Pura SriJong
Seseorang dapat disahkan menjadi pandita seyogianya melalui proses belajar dan berlatih secara lahir batin dengan sebaik-baiknya. Ibarat orang belajar berenang tidak cukup hapal dengan teori-teori berenang yang dinyatakan dalam buku teori berenang saja. Mereka seharusnya sudah berpengalaman terjun ke air dalam segala keadaan untuk berlatih berenang sampai mahir berenang di air. Demikianlah seharusnya seorang pandita.
Pustaka Kekawin Nitisastra 1.6 menyatakan ciri-ciri seorang pandita sebagai berikut: Yan ring Pandita ring ksama, mudita, santosa, upeksa, ris mardawa, Sang sastrajnya, wuwusnira amata pada nyangde sutusteng praja. Artinya: Ciri-ciri pandita adalah ksama (pemaaf), mudita (berbudi tenang), santosa (sabar), upeksa (tamat teliti), mardawa (lemah lembut), sastrajnya (berpengetahuan suci), wuwus nira amata (ucapannya bagaikan air penghidupan). Demikianlah ciri-ciri orang yang disebut pandita.
Pandita juga disebut srotriya karena salah satu swadharma pandita adalah melafalkan stotra yaitu puja mantra yang dapat menimbulkan vibrasi kesucian. Melafalkan stotra itu agar dapat menimbulkan vibrasi kesucian hanya bisa dilakukan oleh orang yang sudah memiliki kualitas kepanditaan sebagaimana dinyatakan dalam pustaka suci Hindu seperti yang dikemukakan di atas.
Pustaka Sarasamuscaya 40 juga menyatakan bahwa seorang pandita yang juga disebut srotriya itu harus seorang yang sista atau ahli dalam hal kitab Veda. Karena seorang srotriya atau pandita memiliki empat swadharma yaitu Satya Wadi yaitu senantiasa menyuarakan kebenaran Weda atau satya. Sang Apta artinya orang yang mendapatkan kepercayaannya karena senantiasa menyuarakan dan melaksanakan kebenaran berdasarkan ajaran kitab suci.
Sang Patirthan yaitu orang yang menjadi tempat memohon penyucian diri dengan simbolis air suci atau tirtha. Sang Panadahan Upadesa artinya orang yang senantiasa menyebarkan pendidikan kerohanian kepada umatnya.
Nampaknya pustaka-pustaka Hindu tersebutlah yang dipahami oleh Dang Hyang Nirarta, sehingga setelah beliau datang ke Bali beliau berkeliling di Bali menjumpai umat melalui berbagai tempat seperti tempat-tempat pemujaan, kepusat-pemerintahan sampai beliau dijadikan Bhagawanta atau Purohita Kerajaan di Bali saat itu.
Selain itu, Bahgawanta Dang Hyang Dwijendra juga melakukan perjalanan suci di Bali dan pernah singgah di Pura Luhur Serijong. Selain Dang Hyang Dwijendra, Dang Hyang Nirarta juga pernah berkunjung ke Pura Serijong di pantai Soka di Kabupaten Tabanan bagian barat. Pura ini terletak di pantai Soka.
Pura ini kemungkinan sudah ada jauh sebelum Dang Hyang Nirartha ke Bali. Karena di Pura Srijong atau ada juga sumber yang menyatakan nama Pura ini Sila Jong berfungsi sebagai Pura Segara. Hal ini dapat dibuktikan ada Pelinggih Pura Segara di Pura Serijong. Sebelum ada Kahyangan Tiga di setiap desa pakraman di Bali, sudah ada tiga jenis pura yaitu Pura Segara, Pura Penataran dan Pura Puncak. Ketiga pura ini sebagai media pemujaan Tuhan Yang Kuasa di Bhur Loka, Bhuwah Loka dan Swah Loka.
Sebelum Dang Hyang Nirartha datang ke Bali, Pura Serijong itu adalah Pura Segara sebagai sarana untuk memuja Tuhan di Bhur Loka agar alam bawah ini berdinamika secara alami sehingga dapat menjadi sumber kehidupan umat manusia di bumi ini.
Kalau segara atau laut berproses menguap ke udara menjadi mendung karena panas matahari dan mendung turun menjadi hujan tepat pada musimnya, maka hal itu akan menjadi sumber kehidupan umat manusia di bumi ini. Keberadaan Pura Serijong ini tentunya amat sederhana sesuai dengan keberadaan masyarakat pada zaman tersebut.
Saat kedatangan Dang Hyang Nirartha, Pura Serijong ini lebih dikembangkan lagi. Setelah Pura Serijong ini pernah dikunjungi oleh Dang Hyang Nirartha, menurut Pemangku Pura, di lokasi Pura Serijong itu konon dijumpai sinar yang memancar. Setelah itu muncul niat umat dengan tokoh-tokohnya untuk menghadirkan pura tersebut lebih sempurna. Pura Serijong berada jauh di atas goa yang dihuni oleh ribuan kelelawar. Goa menghadap ke laut selatan pantai Soka.
Salah satu upaya umat dalam menghadirkan pura tersebut lebih lengkap dengan membangun sebuah Gedong yang cukup menonjol di Pura Serijong tersebut. Pelinggih Gedong tersebut lebih besar dan lebih tinggi daripada Pelinggih Pura Segara. Pelinggih Gedong yang menonjol itu adalah sebagai stana Dang Hyang Nirartha. Bahkan, umat lebih mengenal pura itu hanya sebagai pemujaan untuk Dang Hyang Nirartha.
Dari keberadaan Pura Serijong tersebut dapat kita ambil suatu makna sosial spiritualnya. Makna sosial spiritual itu untuk memotivasi umat agar memahami proses alam serta berusaha untuk tidak mengganggu proses tersebut. Demikian juga lewat Pura Serijong itu umat agar paham swadharma pandita untuk dijadikan dasar membangun sistem kepanditaan yang semakin mengacu pada konsep pustaka suci Hindu.
Dengan demikian umat akan semakin dapat menjaga wibawa dan ikut serta menegakkan swadharma pandita sebagai Brahmana Varna. Demikian juga kalau ada umat yang memiliki niat untuk menjadi pandita agar benar-benar dapat mengikuti konsep-konsep pustaka suci Hindu. Dengan demikian kedudukan pandita di tengah-tengah umat Hindu akan lebih eksis.( Sumber :www.balipost.co.id )




