Free Website Hosting
Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.
Showing posts with label Berita Bali. Show all posts
Showing posts with label Berita Bali. Show all posts

13 November 2016

Bukit Madelen.Desa Subaya.Kintamani

Bukit Medelen.Desa Subaya. Untuk melewati malam Minggu tanggal 12-13 November 2016, Kami melakukan kegiatan Camping di Bukit Madelen,Desa Subaya.Bangli. Untuk mencapai Bukit Medelen perjalanan bisa di tempuh dari Denpasar sekitar 2,5jam.Yang pastinya perjalanan akan sangat menyenangkan karena di dalam perjalanan akan melewati alam yang asri. Bukit Medelen merupakan bukit yang ada di ujung utara Desa Subaya.Kintamani.Bangli. Bukit Medelen menyajikan panorama alam yang luar biasa. Hamparan perbukitan dan jurang-jurang yang dalam hingga lautan terbentang di depan dengan menajakan mata kita. Akhir dari camping kami akhiri dengan penyerahan sembako kepada lansia yang kurang mampu di lingkungan seki

23 November 2014

Pura Luhur Pucak Bukit Rangda

Sejarah. Dalam Lontar Purana Jagat Bangsul disebutkan nama-nama gunung yang ada di pulau Bali. Diantara gunung-gunung tersebut ada disebutkan nama Bukit Rangda. Setelah itu juga disebutkan Sang Hyang Pasupati yang bersabda, bahwa keberadaan pucak Bukit Rangda diberkati semoga menjadi Kahyangannya Hyang Ludra yang disembah atau disungsung oleh seluruh keturunan orang Bali sampai kelak kemudian hari. Nama Bukit Rangda diambil dari kata buket dan rangdu. Buket bermakna tenget atau angker atau sakti tanpa tanding, rangdu sama dengan kepuh. Dinamai Bukit Rangda karena disana dulu ada pohon rangdu atau kepuh yang sangat angker atau tenget. Tentang mulainya dinamai Bukit rangda yaitu pada tahun saka 111 atau tahun 189 masehi. Setelah tahun berganti tahun, kemudian pada tahun saka 1315 atau 1393 masehi disebutkan Dukuh Mayaspuri yg bertempat tinggal di gedong purwa. Beliau mempunyai putra-putri yg bernama I Mucaling, Ratu Ngurah Tangkeb Langit, I Ratu Wayan Teba, I Made Jelawung, I Nyoman Pengadangan, I Ketut Petung dan Ni Luh Rai Darani. Kemudian suatu hari I Mucaling ketentraman penduduk desa Lalanglinggah dengan melakukan penestian dan peneluhan atau pengeliakan untuk menghancurkan kawasan tersebut. Namun perbuatannya tersebut diketahui oleh Rsi Markandya, kemudian beliau melakukan pemujaan untuk menciptakan air tirta mukjizat yg sangat ampuh. Kemudian percikan air tirta itu menyebabkan I Mucaling Kepanasan dan kebingungan kumudian tidak tahan tinggal di Bukit Rangda. Hal tersebut menyebabkan I Mucaling mengungsi ke Jungut Batu dan kemudian menetap di Dalem Peed Nusa Penida. Tetapi saudara-saudaranya masih berada disana, kemudian mereka memeluk kaki Sang Rsi dan memohon perlindungan dari beliau. Kemudian Rsi Markandya memberiakan titah agar mereka mengantikannya untuk mendirikan Kahyangan Bhatara, sebagai tempat bersthananya Bhatara Hyang Ludra. Kemudian dibangunlah Kahyangan atau pura disana, lalu diupacarai atau diplaspas. Selain itu juga diselenggarakan upacara Pratistha Lingga di Kahyangan tersebut pada tahun saka 1340 atau 1418 masehi dan pura itu dimanai Kahyangan Penataran Pucak Bukit Rangda atau Pura Luhuh Pucak Bukit Rangda. NAMA DAN LOKASI PURA Nama lengkap Pura ini adalah PURA LUHUR PUCAK BUKIT RANGDA. Menurut Desa Administrasi, Pura ini terletak di perbatasan Desa Lalanglinggah bagian utara, dengan batas selatan Desa Mundeh, Kecamatan Selemadeg Barat, Kabupaten Tabanan. Ditinjau dari Desa Adat, Pura ini terletak diantara Desa Adat Bangkiang Jaran, Bukit Tumpeng dan Penataran. Secara fisik geografis Pura Luhur Pucak Bukit Rangda terletak di tempat yang berketinggian 200 meter dari permukaan laut, berada di puncak sebuah bukit yang dikitari oleh jurang-jurang yang cukup terjal. Sesuai dengan namanya, Pura ini memang betul-betul berada di puncak Bukit Rangda. Menurut Lontar Purana Jagat Bangsul, kata Rangda berarti rangdu hutan atau kepuh, dan bukit berarti buket, dan buket berarti sakti tanpa tandingan. Bukit Rangda berarti tanah tinggi berbentuk bukit yang ditumbuhi rangdu hutan atau pohon kepuh besar yang keramat/ tenget atau mempunyai kekuatan gaib. Dengan demikian Pura Luhur Pucak Bukit Rangda adalah sebuah Pura yang terletak di puncak sebuah bukit yang dulu ditumbuhi pohon kepuh besar yang sampai kini tetap dikeramatkan karena mempunyai kekuatan gaib untuk melindungi keselamatan umatnya. Pura ini dapat dicapai melalui jalan darat Denpasar-Gilimanuk, sampai di Banjar Suraberata belok ke utara menuju Pancoran, Bangal, Penataran, Bukit Rangda, dengan jarak tempuh lebih kurang 20 Km. Melalui Yeh Bakung, Bangkiang Jaran, Penataran, Bukit Rangda, lebih kurang 8 Km. Dari Pupuan melalui kemoning, Belatungan, Bangal, Penataran, Pucak Rangda lebih kurang 30 Km. Dari Bajera lebih kurang 23 Km, dan sejauh lebih kurang 41 Km dari Ibu Kota Kabupaten Tabanan, atau lebih kurang 62 Km dari Kota Denpasar. Iklim disekitar Pura ini sejuk menyegarkan dengan panorama pantai Yeh Bakung yang sangat indah.
Karya Agung Ngenteg Linggih.
Dudonan karya agung ngenteg linggih,mamungkah,mupuk pedagingan,tawur agung,mapadudusan agung,manawa ratna,wana kertih,@ Pura Kahyangan Jagat Luhur Pucak Bukit Rangda,( lalanglinggah,Selemadeg Barat,Tabanan)
18 Nov 14 : negtegang manik galih,ngingsah lan nyangling,
20 Nov 14 : nyamuh gede,metanding.
7 Des 14 : nuwur tirta,nedunang ida bhatara,mendak siwi,
14 Des 14 : melaspas linggih,melaspas bagia pula kerti,melaspas pedagingan,banten,
15 Des 14 : memenjor,wastra.
18 Des 14 : Ida bhatara desa pakraman pengempon kairing ke pura,
21 Des 14 : melasti pasih mekayu,mulng pekelem,
23 Des 14 : mepepada tawur.
24 Des 14 : tawur agung,panca kelud,mupuk pedagingan.
25 Des 14 : nyepi,oleman guru wisesa
26 Des 14 : mepepada karya,
27 Des 14 : puncak karya ngenteg linggih,
28 Des 14 : mapedanaan
30 Des 14 : ngeremekin,mepeed,
3 Jan 15 : ngelawa
4 Jan 14 : nyegara gunung
7 Jan 14 : nyineb karya,nuek bagia pula kerti,rsi bojana,
7 Feb 15 : abulan pitung dina. Sane arsa medana punia durusang....!!! Om Santih, Santih, Santih, Om

05 March 2010

Ogoh-Ogoh Menjelang Nyepi Di Bali


Menjelang Hari Suci Penyepian, peristiwa dan prosesinya nyaris mirip dari tahun ke tahun, yaitu tiap banjar (pemangkuan adat setingkat kelurahan) di Bali berlomba-lomba membuat "ogoh-ogoh" sebaik dan semenarik mungkin. Kalau bisa lebih berseni, rumit, dan lebih mutakhir, maka "ogoh-ogoh" itu diharapkan bisa menaikkan martabat banjar yang membuatnya.
Layaknya perayaan agama yang bersisian dengan keriaan penganutnya, maka umat Hindhu Dharma juga bersuka-ria menyambut kehadiran tahun baru itu dibarengi dengan perenungan tentang yang telah terjadi dan dilakukan selama ini
Dalam kepercayaan Hindu Dharma, "ogoh-ogoh" adalah karya seni patung dalam kebudayaan Bali yang menggambarkan kepribadian Bhuta Kala itu, yang merepresentasikan kekuatan (Bhu) alam semesta dan waktu (Kala) yang tak terukur dan tak terbantahkan.

Meriahkan Nyepi dengan Pawai Ogoh-Ogoh dengan tetap menjaga Bali tetap AJEG.dan semua kawan....
Aman dan Tentram

14 December 2009

Upacara Rsi Gana


Ribuan umat hindu Jumat 11 Desember 2009 ngaturang ayah terkait upacara pamelaspasan, macaru Rsi Gana serta mendem padagingan di Meru Tumpang 11 di Pura Jati - Segara Danau Batur Kabupaten Bangli. Pamelaspasan Meru ini menyongsong Karya Agung Labuh Gentuh, Mendak Toya, Pakelem di Segara Danau Batur serta Puncak Gunung Batur (Danu Kertih) di Pura Ulun Danu Batur- Desa Adat Batur yang akan diselenggarakan pada tanggal 16 Desember 2009 mendatang.

Upacara pamelaspasan di-puput Ida Pedanda Gede Putra Bajing dari Griya Telabah Denpasar serta Ida Pedanda Gede Putu Kediri dari Griya Selat Bangli.

Jero Gede Batur Alitan mengatakan, mendem padagingan serta melaspas Meru Tumpang 11 di Pura Segara Danu Batur dilakukan sebagai persiapan lanjutan menjelang karya agung labuh gentuh.

Selain melaspas Meru Tumpang 11, juga dilakukan pamelaspasan panyengker dan candi bentar pelinggih. Sebelum upacara pamelaspas digelar upacara Resi Gana dan mendem padagingan yang seluruh rangkaian kegiatannya diiukuti oleh krama baik Desa Adat Batur maupun pemedek lainnya. Sehari setelah melaspas rangkaian upacara akan dilanjutkan dengan nedunang Ida Batara.

12 October 2009

Galungan Lan Kuningan


Umat Hindu dari jaman dahulu sampai sekarang bahkan sampai nanti dalam menghubungkan diri dengan Ida Sanghyang Widi Wasa memakai symbol-simbol. Dalam Agama Hindu simbol dikenal dengan kata niasa yaitu sebagai pengganti yang sebenarnya. Bukan agama saja yang memakai simbol, bangsa pun memakai simbol-simbol. Bentuk dan jénis simbol yang berbeda namun mempunyai fungsi yang sama.

Dalam upakara terdiri dari banyak macam material yang digunakan sebagai simbol yang penuh memiliki makna yang tinggi, dimana makna tersebut menyangkut isi alam (makrokosmos) dan isi permohonan manusia kehadapan Ida Sanghyang Widi Wasa. Untuk mencapai keseimbangan dari segala aspek kehidupan seperti Tri Hita Karana.

Masyarakat di Bali sudah tidak asing lagi dengan penjor. Masyarakat mengenal dua (2) jenis penjor, antara lain Penjor Sakral dan Penjor hiasan. Merupakan bagian dari upacara keagamaan, misalnya upacara galungan, piodalan di pura-pura. Sedangkan pepenjoran atau penjor hiasan biasanya dipergunakan saat adanya lomba desa, pesta seni dll. Pepenjoran atau penjor hiasan tidak berisi sanggah penjor, tidak adanya pala bungkah/pala gantung, porosan dll. Penjor sakral yang dipergunakan pada waktu hari raya Galungan berisi sanggah penjor, adanya pala bungkah dan pala gantung, sampiyan, lamak, jajan dll.

Definisi Penjor menurut I.B. Putu Sudarsana dimana Kata Penjor berasal dari kata “Penjor”, yang dapat diberikan arti sebagai, “Pengajum”, atau “Pengastawa”, kemudian kehilangan huruf sengau, “Ny” menjadilah kata benda sehingga menjadi kata, “Penyor” yang mengandung maksud dan pengertian, ”Sebagai Sarana Untuk Melaksanakan Pengastawa”.

Umat Hindu di Bali pada saat hari raya Galungan pada umumnya membuat penjor. Penjor Galungan ditancapkan pada Hari Selasa/Anggara wara/wuku Dungulan yang dikenal sebagai hari Penampahan Galungan yang bermakna tegaknya dharma. Penjor dipasang atau ditancapkan pada lebuh didepan sebelah kanan pintu masuk pekarangan. Bila rumah menghadap ke utara maka penjor ditancapkan pada sebelah timur pintu masuk pekarangan. Sanggah dan lengkungan ujung penjor menghadap ke tengah jalan. Bahan penjor adalah sebatang bambu yang ujungnya melengkung, dihiasi dengan janur/daun enau yang muda serta daun-daunan lainnya (plawa). Perlengkapan penjor Pala bungkah (umbi-umbian seperti ketela rambat), Pala Gantung (misalnya kelapa, mentimun, pisang, nanas dll), Pala Wija (seperti jagung, padi dll), jajan, serta sanggah Ardha Candra lengkap dengan sesajennya. Pada ujung penjor digantungkan sampiyan penjor lengkap dengan porosan dan bunga. Sanggah Penjor Galungan mempergunakan Sanggah Ardha Candra yang dibuat dari bambu, dengan bentuk dasar persegi empat dan atapnya melengkung setengah lingkaran sehingga bentuknya menyerupai bentuk bulan sabit.

Tujuan pemasangan penjor adalah sebagai swadharma umat Hindu untuk mewujudkan rasa bakti dan berterima kasih kehadapan Ida Sanghyang Widi Wasa. Penjor juga sebagai tanda terima kasih manusia atas kemakmuran yang dilimpahkan Ida Sang Hyang Widi Wasa. Bambu tinggi melengkung adalah gambaran dari gunung yang tertinggi sebagai tempat yang suci. Hiasan yang terdiri dari kelapa, pisang, tebu, padi, jajan dan kain adalah merupakan wakil-wakil dari seluruh tumbuh-tumbuhan dan benda sandang pangan yang dikarunia oleh Hyang Widhi Wasa.

Penjor Galungan adalah penjor yang bersifat relegius, yaitu mempunyai fungsi tertentu dalam upacara keagamaan, dan wajib dibuat lengkap dengan perlengkapan-perlengkapannya.

Dilihat dari segi bentuk penjor merupakan lambang Pertiwi dengan segala hasilnya, yang memberikan kehidupan dan keselamatan. Pertiwi atau tanah digambarkan sebagai dua ekor naga yaitu Naga Basuki dan Ananta bhoga. Selain itu juga, penjor merupakan simbol gunung, yang memberikan keselamatan dan kesejahteraan. Hiasan-hiasan adalah merupakan bejenis-jenis daun seperti daun cemara, andong, paku pipid, pakis aji dll. Untuk buah-buahan mempergunakan padi, jagung, kelapa, ketela, pisang termasuk pala bungkah, pala wija dan pala gantung, serta dilengkapi dengan jajan, tebu dan uang.

Oleh karena itu, membuat sebuah penjor sehubungan dengan pelaksanaan upacara memerlukan persyaratan tertentu dalam arti tidak asal membuat saja, namun seharusnya penjor tersebut sesuai dengan ketentuan Sastra Agama, sehingga tidak berkesan hiasan saja. Sesungguhnya unsur-unsur penjor tersebut adalah merupakan symbol-simbol suci, sebagai landasan peng-aplikasian ajaran Weda, sehingga mencerminkan adanya nilai-nilai etika Agama. Unsur-unsur pada penjor merupakan simbol-simbol sebagai berikut:
- Kain putih yang terdapat pada penjor sebagai simbol kekuatan Hyang Iswara.
- Bambu sebagai simbol dan kekuatan Hyang Brahma.
- Kelapa sebagai simbol kekuatan Hyang Rudra.
- Janur sebagai simbol kekuatan Hyang Mahadewa.
- Daun-daunan (plawa) sebagai simbol kekuatan Hyang Sangkara.
- Pala bungkah, pala gantung sebagai simbol kekuatan Hyang Wisnu.
- Tebu sebagai simbol kekuatan Hyang Sambu.
- Sanggah Ardha Candra sebaga: simbol kekuatan Hyang Siwa.
- Upakara sebagai simbol kekuatan Hyang Sadha Siwa dan Parama Siwa.

Didalam Lontar “Tutur Dewi Tapini, Lamp. 26”, menyebutkan sebagai berikut :
“Ndah Ta Kita Sang Sujana Sujani, Sira Umara Yadnva, Wruha Kiteng Rumuhun, Rikedaden Dewa, Bhuta Umungguhi Ritekapi Yadnya, Dewa Mekabehan Menadya Saraning Jagat Apang Saking Dewa Mantuk Ring Widhi, Widhi Widana Ngaran Apan Sang Hyang Tri Purusa Meraga Sedaging Jagat Rat, Bhuwana Kabeh, Hyang Siwa Meraga Candra, Hyang Sadha Siwa Meraga “Windhune”, Sang Hyang Parama Siwa Nadha, Sang Hyang Iswara Maraga Martha Upaboga, Hyang Wisnu Meraga Sarwapala, Hyang Brahma Meraga Sarwa Sesanganan, Hyang Rudra Meraga Kelapa, Hyang Mahadewa Meraga Ruaning Gading, Hyang Sangkara Meraga Phalem, Hyang Sri Dewi Meraga Pari, Hyang Sambu Meraga Isepan, Hyang Mahesora Meraga Biting

24 August 2009

Puncak Gunung Batu Karu































Gunung Batu karu merupakan salah satu gunung yang ada di pulau Bali.
Gunung Batu Karu tepatnya berada di kabupaten Tabanan.
gunung ini mempunyai ketinggian 2200 m diatas permukaan laut.
Untuk mencapai puncak gunung kita bisa melewati jalur barat.
Yaitu melalui Desa Pujungan,Tabanan.
Didalam perjalan kita akan disuguhkan panorama alam yang sangat luar biasa.
Hutan yang masih hijau,udara yang amat segar dan sejuk,
Sangat jauh dari polusi dan bisingnya kota.
Waktu yang diperlukan untuk menempuh puncak gunung
kurang lebih 4-5 jam.
Suasana di puncak gunung lumayan dingin apalagi pada malam hari akan terasa
lebih dingin.Tapi semua itu akan terbayar dengan panorama alam yang sangat
indah dan luar biasa.
Tapi jika berada di atas gunung kita sangat tidak dibolehkan untuk berkata
yang tidak baik,apalagi bertingkah liar.Karena dipuncak gunung Batu Karu
terdapat tempat suci yang sangat keramat.Pura Luhur Puncak Kedaton.
Bagi umat hindu di pura tersebut sangat baik untuk sembahyang dan juga
untuk bermeditasi.

06 May 2009

Kasta Di Bali


Dalam kasta di Bali terdapat 4 golongan :

1. Kaum Brahmana, para pandita dan rohaniawan.
2. Kaum Ksatria, para anggota lembaga pemerintahan.
3. Kaum Waisya, para pedagang, petani, tukang dan sebagainya.
4. Kaum Sudra, golongan pekerja kasar, rakyat jelata

Lalu ada pula golongan paria, yang tidak termasuk kasta manapun jua. Seperti juga kaum candala, hasil perkawinan antar-warna.

Brahmana adalah golongan paderi atau sami dalam agama Hindu. Mereka menguasai ajaran serta adat keagamaan. Kaum Brahmana tidak memakan benda berdarah.
Kesatria atau ksatria, diambil dari bahasa Sansekerta.

Secara harafiah, artinya ini adalah anggota kasta kedua dalam sistem caturwarna agama Hindu, tetapi zaman sekarang arti ini adalah seorang pendekar pula, atau seorang bangsawan secara umum.

Waisya adalah kasta ketiga dalam tata masyarakat Hindu, golongan pedagang - petani - tukang.
Sudra (Sansekerta: sudra) adalah sebuah kasta atau warna dalam agama Hindu di India.

Kasta ini merupakan kasta yang paling rendah. Kasta lainnya adalah brahmana, ksatria, dan waisya.

Yang saya ketahui mengenai kasta adalah orang yang bergolongan tinggi tidak dapt menikah dengan orang yang bergolongan rendah atau juga yang disebut dengan sudra. Jika orang yang bergolongan tinggi atau biasanya yang berisi title “Anak Agung”,”Ide Bagus”,”Cokorda” atau “Gusti” tidak dapat menikah dengan golongan sudra. Terkecuali orang yang berkasta tinggi adalah laki - laki, jika orang yang berkasta tinggi adalah laki - laki ia dapat menikah dengan golongan yang lebih rendah karena orang yang akan dinikahinya akan terangkat status sosialnya. Dan kebalikannya jika yang berkasta tinggi adalah perempuan.

29 December 2008

Misteri Burung Pembawa Petaka

MENGISI liburan dengan bermain ke laut, merupakan kebiasaan para ABG (anak baru gede). Itu pula yang dilakukan 10 ABG yang berasal dari Selemadeg, Tabanan. Setelah bermain bola, mereka pun beramai-ramai mandi di laut. Naas bagi mereka, lima di antaranya akhirnya terseret ke tengah laut.

Salah satu rombongan yang ikut mandi, Ida Kartika Hermayanti, yang merupakan kakak dari Ade Hermawan, mengatakan awalnya mereka berangkat sepuluh orang ke Pantai Bonian sekitar pukul 16.00 wita, Minggu (28/12). Rombongan sempat main bola dan kemudian mandi di tengah ganasnya ombak.

Menurut penuturan Ida, korban selamat IGM Herananta (13) yang pertama kali terseret ombak. Siswa SMP ini merasa kakinya tertarik ke tengah laut sehingga dia minta tolong. Sang kakak, I Gusti Ngurah Ananta, berupaya menolongnya. Tetapi naas, setelah sang adik berhasil diselamatkan, ia sendiri bersama empat orang lainnya terseret ke tengah ganasnya ombak.

Korban lainnya berteriak histeris meminta tolong kepada masyarakat sekitar melihat rekan-rekan mereka terseret ke tengah laut dengan timbul-tenggelam. Tetapi ketika itu hampir malam dan ombak yang ganas, pencarian pun sulit dilakukan. Namun, keluarga korban, petugas dan masyarakat sekitar langsung berupaya melakukan penyusuran pantai dan menunggu mereka. Bahkan, masyarakat membangun tenda di sekitar lokasi kejadian.

Ketika kelimanya telah ditemukan, keluarga korban belum mengetahui kapan upacara pengabenan akan dilaksanakan. Sebab, kondisi mereka masih shock dengan kejadian tragis itu. (kmb14)

Misteri Elang Laut

SEEKOR burung jenis elang laut hitam yang bertengger di batu karang, Senin (29/12) kemarin menjadi pusat perhatian warga. Pasalnya, tiga hari sebelum kejadian, sekelompok anak muda tersebut menangkap elang laut itu dan dibawa ke rumah. Anehnya, selama tiga hari, kelompok anak muda tersebut gandrung main ke pantai itu dan mandi hingga lima orang di antaranya tewas terseret ombak.

Setelah kejadian itu, pihak keluarga menanyakan ke 'orang pintar'. Disebutkan agar burung tersebut dikembalikan ke tempat asalnya. Pagi kemarin, seiring dengan digelar upacara dan nebusin dengan lima ekor bebek, elang laut hitam itu dikembalikan. Tetapi burung tersebut tak mau terbang. Hanya bertengger di atas karang. Ketika didekati pun burung itu tidak menjauh melainkan tetap berada di atas karang, walau dikerumuni warga. Tempat yang penuh dengan karang itu sebelumnya memang bukan tempat yang lazim digunakan untuk mandi. Tetapi walau sempat dilarang oleh sejumlah nelayan, kelompok anak muda itu tetap nekat mandi walau ombak sedang besar.

13 December 2008

Tumpek Wayang

Hari ini Sabtu, 13 Desember 2008 atau dalam kalender Bali itu Saniscara Kliwon Wayang adalah hari Tumpek Wayang, yaitu selebrasi untuk memperingati segala sesuatu yang berwujud seni. Seni yang dimaksud adalah keindahan. Ini merupakan wujud syukur umat Hindu terhadap Tuhan karena telah diberikan berbagai macam kelebihan dari makhluk lain khususnya kemampuan untuk berkreasi dalam bidang kesenian. Kalo kita ambli filosofinya, manusia ini bak wayang yang memainkan perannya tergantung kepada sang dalang (Tuhan). Agar wayang ini penampilannya apik, diberikanlah gambelan sebagai aksesoris agar gerakannya sesuai. Nah gambelan ini adalah kondisi-kondisi kehidupan yg kita alami, semestinya kita berwujud syukur kepada-Nya telah diberikan berbagai macam kondisi yang menjadikan hidup ini menjadi lebih hidup..(kayak iklan ajah he3x)

Hari ini umat Hindu melakukan persembahyangan ke pura-pura desa setempat, juga pura-pura yang ada di banjar-nya. Kita bisa melihat banyak prosesi adat Bali hari ini jika kita lage ada di Bali. Hampir semua banjar menggelar prosesinya sendiri. Begitu juga dengan desa yang memiliki tapakan (sesuhunan) Barong, mereka pasti menggelar acara sembahyang bersama, karena Barong dan gambelannya adalah wujud daris eni itu sendiri.

New Cell